![]() |
WARTAKUM.COM
- Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong perusahaan manufaktur besar yang
berasal dari Jerman, Siemens AG untuk terus meningkatkan investasi di Indonesia
dan kemitraannya dengan industri dalam negeri. Siemens AG telah bergerak di
sektor industri teknik listrik, elektronik, peralatan energi, transportasi,
telekomunikasi, teknologi informasi, lampu, dan peralatan medis.
“Kami juga meminta mereka agar semakin memperkuat kerja
sama di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi. Upaya ini sekaligus untuk
memantapkan implementasi industri 4.0 di Tanah Air,” kata Menperin seusai
melakukan pertemuan dengan Board of Managing Directors (BOD) Siemens AG Cedrik
Neike di Berlin, Jerman, Kamis (3/5) waktu setempat.
Menurut Menperin, di dalam peta jalan Making Indonesia
4.0, pemerintah telah menetapkan industri elektronik sebagai salah satu dari
lima sektor prioritas yang akan menjadi percontohan pada penerapan teknologi
industri generasi keempat. “Kita perlu belajar juga dengan Siemens, yang
mempunyai pusat vokasi terbesar dan terbaik. Selain itu sudah melakukan
pelatihan di lebih 20 negara di dunia,” ujarnya.
Pengembangan industri elektronik di Indonesia ke depan,
akan diarahkan agar menjadi manufaktur yang menghasilkan produk bernilai tambah
tinggi, termasuk komponen. Hal ini guna mengurangi bahan baku impor dan
melibatkan dalam rantai pasokan global. “Maka itu, diperlukan tenaga kerja yang
kompeten, pemberian insentif, serta mendorong inovasi lanjutan dan mempercepat
transfer teknologi,” tuturnya.
Dalam upaya mengakselerasi implemetasi industri 4.0, dari
10 langkah prioritas nasional, salah satunya yang perlu disiapkan adalah
peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Caranya antara lain melalui
reskilling dengan berbagai pelatihan vokasi sesuai kebutuhan industri saat
ini,” imbuh Airlangga.
Tahun lalu, Siemens telah menandatangani MoU dengan PT PLN
(Persero) untuk memacu kapasitas SDM di Indonesia melalui program vocational
training (pelatihan kejuruan). Program ini dijadikan pilot project untuk
mencetak tenaga kerja yang siap pakai di sekor industri ketenagalistrikan.
Airlangga menambahkan, Jerman merupakan kiblatnya industri
4.0. Karena itu, untuk memantapkan revolusi industri keempat di Tanah Air,
Indonesia perlu banyak belajar dari Jerman terutama mengenai pelatihan SDM
industri. “Di belakang robot tetap ada tenaga kerja, sehingga dibutuhkan
training dan reskilling khususnya bagi para generasi muda untuk menghadapi
industri 4.0 ini,” tegasnya.
Menurut Menperin, revolusi industri 4.0 ini bukan untuk
menggantikan tenaga kerja, tetapi pergantian pekerjaan. “Contohnya, yang
terjadi di Tanah Air, pada era digital ini bermunculan jasa transportasi
berbasis online seperti Go-Jek dan Grab. Selain itujuga ditandai juga dengan
tumbuhnya e-commerce dan lainnya, yang malah dapatmenambah lapangan pekerjaan,”
paparnya.
Jadi, lanjut Airlangga, revolusi industri 4.0 adalah
tantangan dan peluang yang sangat baik bagi Indonesia. “Dengan Industri 4.0,
sektor manufaktur kita akan menjadi lebih efisien, produktif dan dapat bersaing
di dunia,” ucapnya.
Apalagi, Siemens AG akan meluncurkan sebuah platform
digital terbaru bernama Siemens Industrial Edge. Platform ini befungsi untuk
membantu perangkat automasi dengan cara menyediakan pemrosesan data di tingkat
mesin serta teknologi analisis canggih dan kemampuan edge computing untuk
industri manufaktur dengan aman.
Terkait peningkatan investasi, Kemenperin mengajak Siemens
terus menggandeng produsen komponen pembangkit listrik lokal agar menjadi mitra
bisnisnya. Siemens memiliki pabrik komponen pembangkit tenaga listrik, seperti
turbin uap dan turbin gas di Cilegon, Banten. “Industri kita sudah ada yang
mampu memproduksi komponen pembangkit listrik, seperti boiler,” ungkap
Menperin.
Beberapa waktu lalu, PT Barata Indonesia (Persero) kembali
memperkuat lini bisnisnya melalui kerja sama dengan Siemens Aktiengesellschaft
untuk memproduksi turbin khusus industri gula. Kolaborasi ini tertuang dalam
penandatanganan Strategic Alliance Agreement.
Rencananya, Siemens juga ingin berinvestasi untuk
pengembangan lokomotif kereta api dengan teknologi AC/AC yang memiliki
keunggulan mesin kuat, perawatan lebih sederhana, irit bahan bakar dan emisi
gas buang yang rendah.
Kemenperin mencatat, sepanjang 2010-2015, nilai
keseluruhan investasi Jerman di Indonesia mencapai USD552 juta dengan 547
proyek yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 38.382 orang. Sedangkan, pada
2017, nilai investasi Jerman di Indonesia untuk sektor manufaktur sebesar
USD79,3 juta dengan total 108 proyek, naik dibanding capaian investasi tahun
sebelumnya sebesar USD58,5 juta dengan 59 proyek. Proyek investasi Jerman
tersebut didominasi oleh sektor industri baja dan mesin, kimia dan farmasi,
serta otomotif. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar