Selasa, 01 Januari 2019

Himpunan Pencak Silat Indonesia (HPSI) Perguruan Pencak Silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka


Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka berbunyi Elmu Luhung Teu Adigung, Sakti Diri Teu Kumaki, Yakin Usik Kersaning Illahi,

Wartakum.com, Garut. -IGadjah Putih didirikan oleh Maha Guru K.H. Adji Djaenudin Bin H. Usman pada tanggal 20 Mei 1959 di Kampung Gegerpasang, Desa Sukarasa, Kecamatan Samarang, Kabuaten Garut. Maha Guru lahir di Kampung Gegerpasang pada tahun 1908 dan beliau telah terjun dalam dunia persilatan pada tahun 1927. Sejak saat itu Maha Guru mulai berguru pada guru-guru silat antara lain Mama H. Usman (Syahna Samarang), Endjam Djamhari (Pangalengan Bandung), Mama Sa'i (Cimindi Bandung), Embah Bi'in (Ciampea Taralikolot Bogor), Bang Jam'an dan Bang Alip (Kwitang Jakarta).
Pada tahun 1959 lahirlah lambang perguruan dengan melalui tafakur kepada Allah SWT, yang diartikan Gadjah Putih sebagai seekor satwa besar yang gagah berani berwarna putih yang melambangkan kesucian, diibaratkan sebuah kendaraan dalam membela kebenaran dan kebajikan hidup yang diridhoi oleh Allah SWT, dan belalai gajah dengan kelincahannya serta kuat bermulti guna demi kemaslahatan umat manusia. Mega berarti luhur, bercita-cita tinggi dalam membela nusa bangsa yang berpancasila dan beragama. Paksi berarti jujur, cepat, lurus demi keadilan, kebenaran dan keparipurnaan hidup manusia duniawi dan ukhrowi. Pusaka berarti terpelihara, wajib dipelihara warisan leluhur supaya tetap tunggal dengan kesatuan dan persatuan dalam membela dan mencapai cita-cita.

Dengan demikian untuk menghormati kerja keras Guru Besar yang dulu telah susah payah dalam mencari ajaran ke setiap daerah dan melewati segala rintangan pada jaman genting (jaman penjajahan Belanda), kita sebagai generasi penerus yang tinggal berlatih tanpa harus susah payah melewati segala macam rintangan seperti yang Guru Besar alami dilarang keras untuk merubah lambang atau menambahkan dan mengurangi nama Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka yang telah susah payah beliau dapatkan melalui tafakur, terkecuali menambahkan nama daerah atau sektor, sebagai contoh Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka Garut dan sebagainya.

Moto Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka berbunyi Elmu Luhung Teu Adigung, Sakti Diri Teu Kumaki, Yakin Usik Kersaning Illahi, yang berarti ilmu tinggi tidak angkuh, sakti diri tidak takabur, yakin prilaku perkenan Ilahi. Dengan moto tersebut dapat dijelaskan jika kita memiliki ilmu, baik secara fisik maupun batin yang mumpuni, kita tidak boleh angkuh. Begitupun jika telah merasa diri kita sakti jangan pernah takabur dan yakinkanlah bahwa setiap prilaku atau perbuatan kita harus di ridhoi oleh Allah SWT.
Secara sederhana aliran silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka dirumuskan sebagai berikut : Sera - Kari - Madi = Ringan - Keras - Pertimbangan.
Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka mempunyai jurus ajaran secara fisik sebanyak 24 jurus sebagai berikut :
Jurus,Susun, Potong,Sikut, Depan Potong, Depan Sikut, Simur,Selup, Tebang Luhur, Tebang Bawah, Sangkol, Alip Sangkol, Sentak, Gendong Macan, Kuwitang, Kiprat, Setembak, Serong, Alip Catok, Alip Naga Berenang Kedet, Kepruk Dongkari, Dongkari Tunggal, Tendang Besot Paksi Muih, Alip Tilep Leungit.
Jurus-jurus tersebut di atas mempunyai arti masing-masing sasaran untuk memperoleh adeg-adeg tenaga fisik guna membina kekuatan jasmani.
Langkah merupakan pasangan dari jurus silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka yang mengatur dan memecahkan usik di samping keindahan, juga merupakan perlambang akidah, mengatur langkah kehidupan dan perbuatan, pribadi, organisasi, terpelihara.
Ondean adalah semacam ujian melalui upacara di padepokan antara Maha Guru (dulu) atau sekarang oleh Dewan Sesepuh dengan muridnya yang telah mencapai tahap pendidikan dan latihan, yang dilukiskan sebagai pemberian doa restu sepenuhnya di mana ilmu yang diberikan guna kebenaran sesuai lambang Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka.
Ilmu pengetahuan yang telah dipelajari oleh seorang murid disertai pengertiannya, Maha Guru merasa perlu untuk dikukuhkan dalam suatu upacara yang merupakan peresmian sebagai ikatan batin. Upacara semacam ini juga dimaksudkan sebagai peletakan rasa tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara segala ilmu yang telah dicapainya fisik maupun batinnya. ( Red - HR ).
                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nasional