Rabu, 17 Januari 2018

Kemelut di Tubuh MPN Beberapa Pendiri dan Pegiat Segerah Ambil Langka Tentukan Kebijakan

Surabaya, mitrapublik.net -
Tidak ingin ada perpecahan antara wartawan yang tergabung dalam Majelis Pers Nasional (MPN), beberapa tokoh pendiri, pendukung dan pegiat akan segera mengambil langkah untuk menentukan kebijakan dalam waktu dekat. Dengan mengumpulkan pendiri, penggiat dan pelaku media untuk membahas MPN kedepan dengan tema ‘Mengembalikan Marwah MPN’.

Kemelut yang terjadi di pengurusan Majelis Pers Nasional (MPN) kerap dipersoalkan dan dipertanyakan perannya dalam pelaksanaan fungsi legislasi, pertimbangan, dan pengawasannya. Sudah banyak gagasan, diskusi dan berbagai bentuk dialog yang dilakukan baik secara internal maupun eksternal mengenai kelembagaan dan kekuasaan ditubuh MPN.

Para pendiri dan tokoh MPN diantaranya Marjuki, Gatot, Nata Seha, Bashori dan Tinus beserta para wartawan yang hadir mengadakan kopi darat di kuliner Convention Hall jalan arif rahman hakim Surabaya.

Dalam dialognya Gatot Pimred media panjinasional mengatakan, langkah ini perlu ditempuh, karena terdapat kekhawatiran bahwa ketua umum (ketum) MPN, H.Umar sudah keluar jalur dalam menjalankan roda MPN, ajakan untuk komunikasi, diskusi dan sejenisnya dalam konteks membangun dan membahas apa sebenarnya progam MPN kedepan, namun tidak pernah digubris.

“Kami tidak ingin ada perpecahan diantara para pimpinan media dan wartawan pendukung MPN, karena Ketum dan Sekjen MPN sudah melangkah tanpa koordinasi dengan pengurus dan para pendiri, bahkan terkesan menggampangkan, maka kami akan mengingatkan dan melakukan upaya meluruskan, sebelum melangkah akan kami koordinasikan kepada seluruh stage holder untuk membantu sepanjang prasyarat mengenai keberadaan dan peluang untuk mengembalikan Marwah MPN kembali,” pungkas Gatot salah satu penggagas dan pendiri MPN.

“Kelahiran MPN pada mulanya disambut optimisme sebagai bagian dari reformasi struktur lembaga perwakilan para wartawan yang kurang puas dengan adanya syarat dan pembatasan ruang gerak para wartawan, yang sebelumnya di dominasi oleh kekuatan pengaruh dewan pers yang lebih merupakan representasi politik berbasis populasi, sekaligus memberikan harapan baru bagi pengaturan hubungan Pusat – Daerah yakni mengartikulasikan kepentingan daerah dalam kebijakan nasional dalam kerangka UU PERS,” tegasnya.

Upaya pelurusan dan pembahasan seluruh pendiri, pendukung dan seluruh pengurus bertujuan untuk mengingat kembali pertemuan di Pendopo THR bersama para wartawan dan pimpinan media hingga tercetusnya Majelis Pers Nasional itu berkat dukungan dan kebersamaan, bahkan tidak ada yang berniat merebut jabatan Ketua Umum, kata Gatot yang di iyakan oleh Tinus, Marzuki, Seha yang duduk berdampingan.

Dalam kesempatan itu, M. Tinus, Pimred koran OPSI menambahkan, bermula dari rasa kepedulian yang sama, MPN terbentuk dari hasil urunan para awak media untuk mewujudkan dan mendeklarasikan. "Jadi MPN bukan milik beberapa gelintir orang. Karena mempunyai harapan yang sama, bahwa memiliki organisasi (MPN-red) yang mempunyai pijakan hukum yang tetap dan mengikat, seperti halnya dewan pers, sehingga bisa memberikan usulan serta putusan untuk lebih mengoptimalkan wartawan dan perusahaan pers dalam menjalankan fungsinya," tegasnya. (Ron/Roh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar