Surabaya, wartakum.com - Provinsi Jawa Timur cocok dijadikan proyek
percontohan atau pilot project program pembangunan ekonomi perempuan secara
nasional. Alasannya, program tersebut sesuai dengan prioritas pembangunan
di Jatim. Ditambah lagi, kesetaraan gender juga mampu berjalan dengan baik di
provinsi ini.
“Jika ingin membangun untuk
dijadikan contoh, lebih baik diterapkan di daerah yang sudah siap, jangan di tempat
lain yang belum siap. Jawa Timur sudah sangat siap untuk dijadikan pilot
project pembangunan ekonomi perempuan" ujar Gubernur Jawa Timur, Dr. H.
Soekarwo dalam sambutan selamat datang pada acara pembukaan Tanwir I
’Aisyiyah dengan tema "Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Pilar
Kemakmuran Bangsa", serta peresmian Gedung At-Tauhid Universitas
Muhammadiyah oleh Wakil Presiden RI, Dr. H.M. Jusuf Kalla di Universitas
Muhammadiyah Surabaya, Jl
Sutorejo No 59 Surabaya, Jumat (19/1/2018).
Pakde Karwo-sapaan Gubernur
Jatim ini menambahkan, pembangunan ekonomi perempuan menjadi prioritas Pemprov
Jatim, dengan salah satu implementasinya melalui program perekonomian berbasis
keluarga yang dimotori oleh para ibu rumah tangga. Contohnya adalah Koperasi
Wanita (KOPWAN), yang saat ini tercatatsebanyak 8.506 KOPWAN di Jatim.
“Kami memberikan hibah untuk
pendirian KOPWAN diseluruh Jatim. Mereka bisa memilih jenis koperasi
konvensional atau syariah. Lalu ada hibah untuk kelompok-kelompok fungsional,
pertama Rp. 25 juta, kemudian jika berkembang, ditambah lagi Rp. 25 juta sampai
Rp. 100 juta. Ini agar ekonomi wanita bisa berkembang” ujarnya.
Gubernur kelahiran Madiun ini
menambahkan, Jatim juga mampu melaksanakan program pengarustamaan gender (PUG)
dengan baik, perempuan berperan besar bagi kemajuan di Jatim. Hal ini
dibuktikan dengan diraihnya penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) dari
pemerintah pusat selama sepuluh kali berturut-turut.
APE sendiri adalah penghargaan
yang diberikan kepada pemerintah daerah yang dinilai berhasil melaksanakan
strategi pengarus utamaan gender,perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan
bidang ekonomi mandiri. “Jadi PUG di Jatim sudah bagus, kami siap untuk jadi
pilot project pembangunan ekonomi perempuan” ujarnya.
Wapres Minta Sidang Tanwir I Aisyiyah Rumuskan
Ekonomi Masa Depan
Dalam kesempatan ini, Wakil
Presiden (Wapres) RI, HM Jusuf Kalla meminta sidang Tanwir I Aisyiyah 2018 di
Surabaya ini dapat menghasilkan pemikiran dan mampu merumuskan tentang ekonomi
di masa depan.
Menurutnya, masa depan adalah
kehidupan yang baru dan penuh dengan inovasi, khususnya di bidang Teknologi Informasi
(TI). Karena itu, Aisyiah diharapkan mampu mengikuti perkembangan jaman dan
teknologi agar bisa bersaing dan memenangkan tantangan tersebut.
Ditambahkan, perempuan di era
sekarang banyak yang mencapai kesuksesan dalam membangun perekonomian. Agar
semakin berhasil, perempuan juga harus mengikuti perkembangan ekonomi berbasis
teknologi. "Sekarang ekonomi sangat berkembang, mau makan mau minum
tinggal pesan lewat handphone, semua lewat e-commerce, mau pesan barang atau
sesuatu lewat aplikasi online," tambahnya.
Selain itu, Wapres Jusuf Kalla
juga mengapresiasi misi Universitas Muhammadyah yang mengedepankan morality,
intelektual, dan enterprenuership dalam mendidik mahasiswanya guna menghadapi
tantangan ekonomi di masa datang. Sebab, ke depan lulusan perguruan
tinggi harus bisa berinovasi yang mengandalkan profesionalisme dan
enterprenuership yang didukung oleh para alumninya.
Tanwir Aisyiyah Dorong Semangat Jihad Ekonomi
Perempuan
Dalam kesempatan ini, Ketua
Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantin menjelaskan, tema yang
diangkat dalam Tanwir kali ini adalah "Gerakan Pemberdayaan Ekonomi
Perempuan, Pilar Kemakmuran Bangsa". Tema bertujuan mendorong
semangat jihad ekonomi perempuan.
"Aisyiyah dengan
potensi perempuan yang dimiliki ingin meneguhkan dan meluaskan gerakan jihad
ekonomi perempuan, demi terwujudnya kemajuan ekonomi di Indonesia,"
katanya.
Ditambahkan, untuk mendorong
semangat jihad ekonomi perempuan ini bukan perkara yang mudah. Karena itu,
Aisyiyah dimintanya untuk terus berupaya bersinergi dengan pemerintah dan
lembaga negara, serta dengan pihak swasta.
Tanwir yang digelar kali ini,
lanjutnya, diharapkan benar-benar mampu membangkitkan semangat lebih agar
perempuan mampu berkiprah lebih luas dalam memajukan kehidupan bangsa lewat
pemberdayaan ekonomi. Apalagi berdasarkan realitas di lapangan, permasalahan
ekonomi masih menimbulkan keprihatinan baik bagi pemerintah maupun organisasi,
termasuk Aisyiyah.
"Jadi dalam Tanwir ini
juga akan dibahas solusi untuk masalah kemiskinan, kesenjangan ekonomi, serta
masih tajamnya penguasan air, bumi, dan isinya yang belum sesuai sepenuhnya
dengan mandat konstitusi," kata Noordjannah.
Penyelesaian masalah itu,
lanjut Siti Noordjannah, selain menjadi tanggung jawab pemerintah, juga menjadi
tanggung jawab organisasi, termasuk Aisyiyah. Apalagi, perempuan menurutnya
memiliki peran yang luar biasa dalam upaya memperbaiki perekonomian di negeri
ini.
"Terbukti saat krisis
moneter tahun 1998, yang bisa bertahan dan menyelesaikan permasalahan ekonomi
di rumah-rumah itu kan perempuan. Banyak laki-laki kehilangan pekerjaan, tapi
perempuan masih bisa memperbaiki dengan mengerjakan apa saja yang bisa
dikerjakan," katanya. (humasjatim:adit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar